jai2bigdream

Just another WordPress.com weblog

Harga Minyak Dunia Turun, Ada Apa?

Setelah beberapa bulan harga minyak mengalami kenaikan tidak normal, dalam satu minggu terakhir mengalami penurunan sangat drastis. ada gelaja apa?

pada saat perrtemun beberapa waktu lalu di Jeddah OPEC menuduh spekulan, benarkah?

Berikut kutipan dari JP. 20 Juli 2008

JAKARTA (BP)– Setelah membuat pemerintah dan industri seluruh dunia menjerit-jerit, harga minyak dunia mulai mengendurkan tekanannya. Pada penutupan perdagangan pekan kemarin (19/7), sumber energi yang menjadi buruan banyak negara itu turun harga hingga dolar AS 128 per barel. Padahal, pekan sebelumnya menembus 147 dolar AS per barel. Ini adalah penurunan harga terbesar si emas hitam yang pernah terjadi.

Pengamat perminyakan Kurtubi menyatakan, penurunan harga minyak itu mencerminkan adanya aksi ambil untung (profit taking) di kalangan investor. ’’Ada kekhawatiran perekonomian dunia akan melambat. Itu akan berpengaruh pada permintaan minyak. Para pemainnya sudah merasa mendapat untung banyak, sehingga mereka melakukan profit taking,’’ jelasnya.
Namun, dia mengingatkan bahwa penurunan harga minyak itu hanya sementara. ’’Ada sejumlah faktor geopolitik yang akan membuat harga minyak kembali naik,’’ ujarnya.
Selain faktor tersebut, Kurtubi menilai faktor fundamental minyak masih cukup kuat. ’’Konsumsi minyak dunia secara riil terus meningkat, meski di AS ada kecenderungan menurun. Itu membuat minyak masih menjadi komoditas berfundamental sangat baik untuk investasi,’’ tegasnya.
Meski perekonomian AS terancam melambat, kata dia, permintaan minyak masih akan tertopang oleh geliat pertumbuhan Tiongkok dan India. ’’Karena itu, saya bilang penurunan (harga) ini hanya sementara,’’ katanya.
Kurtubi menegaskan, secara riil, konsumsi minyak dunia memang naik. ’’China dan India misalnya, pemakaian kendaraan terus naik, sehingga ada tambahan permintaan,’’ jelasnya.
Berbeda dari Kurtubi, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengungkapkan, permintaan minyak dunia secara riil tidak naik. Sebab, perdagangan minyak sudah sangat mirip perdagangan saham. ’’Selama ini nggak benar dikatakan negara-negara besar bahwa permintaan minyak meningkat,” paparnya.
. Yang meningkat hanya permintaan surat-surat berharganya. Tidak meningkat secara fisik,’’ tegasnya.
Dengan asumsi tersebut, dia berpendapat kenaikan harga minyak tidak ditopang oleh faktor-faktor fundamental, yaitu permintaan yang terus menanjak.

Dia mencontohkan sikap anggota OPEC yang tetap ingin harga minyak berada pada level tinggi. Karena itu, OPEC tidak dengan mudah mau menaikkan realisasi produksi minyak. ’’Itu wajar karena memang bukan faktor fundamental dalam posisi harga minyak saat ini,’’ jelasnya.
Soal turunnya harga minyak sepekan ini, dia mengakui ada aksi ambil untung. ’’Ada kekhawatiran ekonomi dunia melambat, permintaan (minyak) akan turun. Karena itu, para pemainnya memutuskan melepasnya sekarang karena sudah ada keuntungan,’’ katanya.
RI Mengalah kepada Spekulan
Pengamat ekonomi yang juga mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie menuturkan, keputusan pemerintah menaikkan harga BBM lalu membuktikan bahwa pemerintah dikendalikan oleh pemodal internasional di bursa komoditas. Buktinya, saat ini harga minyak menurun.
’’Artinya, pemerintah hanya mengikuti persaingan usaha yang tidak sehat dan tidak wajar di sektor BBM,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos kemarin (19/7).
Kwik menyatakan, volume minyak yang diperdagangkan di pasar hanya 30 persen dari volume minyak di seluruh dunia. Sisanya (70 persen) milik perusahaan-perusahaan minyak raksasa berdasar kontrak dengan negara-negara produsen minyak mentah. ’’Di Indonesia, kontrak itu disebut kontrak bagi hasil atau production sharing,’’ jelasnya.
Harga minyak mentah, kata dia, akan sangat sering mengalami fluktuasi karena didominasi faktor nonfundamental. Misalnya, adanya pemulihan nilai dolar AS, sehingga investor memilih keluar dari pasar berjangka sambil profit taking karena menyimpan uang di komoditas itu tak menarik lagi. ’’Jadi, pasar internasional bermain, rakyat di Indonesia yang rugi,’’ tegasnya.
Menurut Kwik, bagian terbesar minyak dunia diproduksi oleh negara-negara yang tergabung dalam kartel internasional. ’’Kalau mekanisme persaingan dirusuhi oleh kartel, apa masih bisa disebut sehat dan wajar?’’ ujarnya.
Kwik juga mempertanyakan apakah betul permintaan minyak sedemikian melonjak dan terus-menerus seperti grafik harga minyak mentah di pasar internasional? ’’Buktinya kan tidak. Hanya dipengaruhi spekulan melalui future trading. Kok pemerintah terus menaikkan harga BBM,’’ katanya.
Harga minyak mentah terus berfluktuasi. Setelah sempat turun hingga di bawah 100 dolar AS per barel, lalu naik di atas batas psikologis mencapai rekor 111,80 dolar AS per barel pada Maret. Setelah itu, menembus 147 dolar AS per barel, meski saat ini turun pada posisi 128 dolar AS per barel.
Menyangkut asumsi harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) dalam APBN Perubahan 2008 sebesar 95 dolar AS, Kwik menyebut patokan tersebut menunjukkan kepanikan. ’’Padahal, pemerintah bisa membuat asumsi harga yang lebih realistis dari itu,’’ tegasnya. (yun/el/jpnn)

Juli 20, 2008 - Posted by | Berita

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: