jai2bigdream

Just another WordPress.com weblog

Cinta vs Nafsu

Kau jatuh cinta? Apa yang kau rasakan? Dalam sejarah peradaban manusia cinta dan nafsu menjadi satu paket yang sering ditukar maknanya tanpa disadari oleh penerimanya, apa sejatinya yang dia nikmati. Bapak dan Ibu manusia pertama Adam dan Hawa juga penerima paket cinta ini, kemudian menukarnya dengan nafsu, tapi sayang mereka tidak menyadarinya, padahal dia berada di tempat yang sangat mulia pada saat itu. Ini adalah awal sejarah cinta yang sangat tua, sama tuanya dengan usia peradaban manusia

 

Sejarah cinta berlanjut, jaman keemasan raja-raja sebelum masehi juga demikian, seorang raja terkuat pada jamannya, Julius Caesar takluk di bawah kedok cinta Cleopatra yang cantik jelita. Keperkasaan otot dan otak cerdas bukan penawar rasa cinta. Kisah para Nabi juga diselingi dengan cinta, seperti yang terjadi pada Julaiqa’ yang jatuh cinta berat dengan budaknya Yusuf a.s.

 

Jaman moderen, cinta adalah salah satu dari peradaban manusia yang paling tidak berkembang, atau bahkan bisa dikatakan stagnan. Apa yang pernah terjadi dan dialami oleh aktor-aktris kuno berulang lagi dengan edisi batu, tetapi sejatinya skenario dan ide ceritanya tetap sama. Hampir semua orang tahu Pangeran Charles, seorang calon Raja Inggris Raya yang sangat populer. Kurang apa istrinya Lady Diana yang cantik, berjiwa sosial dan cerdas, toh bukan kecantikan atau ujud fisik yang dijadikan ukuran cinta, melainkan tanda tanya besar dan sulit dikuak bahkan oleh seorang penggali arkeolog paling terkenal sekalipun.

 

Lalu apa sejatinya cinta? Mungkin boleh mengambil sebagian dari ajaran Gibran tentang cinta. Mari dengarkan apa wejangan Sang Maha Guru Cinta:

 

“Cinta tidak memberimu apa-apa kecuali keseluruhan dirinya, seutuhnya pun tidak mengambil apa-apa, kecuali dari dirinya sendiri .

Cinta tidak memiliki apapun atau bahkan dimiliki. Karena cinta telah cukup untuk cinta”

 

Apakah kamu merasakan seperti yang di ajarkan Gibran? Kalau ya, berarti kamu mendapatkan hikmah dari sebagian keabadian cinta. Bagaimana membedakannnya dengan nafsu? Sangat sulit, cinta dan nafsu bagai pisau bermata ganda, sisi manapun yang kamu gunakan, bentuknya sama. Kalau menggunakan pisau ini jangan padangi dengan kasat matamu, melainkan mata batinmu. Dengarkan suara di sekelilingnya, adakah jeritan hati yang tersayat karena irisannnya.

 

Aku jatuh cinta

Sudah sangat sering kita mendengarkan kata-kata ini, bahkan hampir setiap saat kita mendengarnya dari lirik lagu, dialog sinetron, cerira novel dan seterusnya. saking seringnya mendengarkan, ungkapan ini menjadi ucapan ringan dan berlalu, seolah kta sedang mendengarkan ucapan mubazir. Benarkah kamu telah jatuh cinta? Tolong bedakan dengan nafsu selagi bisa. Bagaimana cara memilahnya?

Kalau engkau hendak membedakan dua sisi pesau bermata ganda, tidak lain kecuali melihat dengan mata hati, benarkah mata pisau ini tanpa beda? Bukankah tidak ada yang sama setiap ciptaan Tuhan di muka bumi. Secara kasat mata, ujudnya sama tanpa ciri lain. Lalu amati sekali lagi dari setiap lekukan dan rasanya, kalau belum juga engkau dapati perbedaannya, lakukan dengan mata hatimu, mintalah Tuhan supaya membantumu membedakannya, niscaya dengan bantuan Tuhan, tidak akan kamu mendapati kesalahan menentukan sisi-sisinya.

Apabila kamu tidak bisa membedakannya dengan mata batin, apa yang kamu lakukan selanjutnya? Ekperimen bisa jadi sangat membahayakan, karena ada luka yang bakal ditimbulkannya. Sekali kamu gunakan, dan pilihanmu salah, akibatnya menyisahkan bekas luka kasat mata. Banyak orang yang bisa menyakskan lukanya. Walaupun kamu segera menyadari kesalahan dan mengobatinya, ada bekas sayatan yang tidak bakal hilang dengan segera. Berhati-hatilah menggunakan pisau mata ganda.

Cinta mencerahkan, cinta mengembirakan tapi ingat nafsu membawamu ke jurang kenistaan. Tidak muda membedakan nafsu dan cinta karena dibungkus dengan kemasan sama yaitu rindu dan sayang. Banarkan kamu jatuh cinta? Pisahkan lebih jauh akalmu dengan ego. Lalu amati dengan seksama, tanyakan berulang kali dalam renungan sepi malam. Ulangi lagi dan ulangi sampai akalmu mendapati perbedaannya. Di sana akan kamu dapati keduanya berpisah sejelas jelasnya

 

Paiton, 8 November 2007.

Juli 17, 2008 - Posted by | Budaya & Sastra

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: