jai2bigdream

Just another WordPress.com weblog

Berhala

Rabu 12 September 2007 terjadi gempa bumi di perairan Bengkulu dan padang Sumatra Barat. Genpa yang berkuatan 7,9 skala refter tersebut membuat kerusajkan cukup parah di sekitarnya. Sampai dengan Kamis sore korban meninggal tercatat 8 orang dari sumber Metro TV. Dua hari sebelumnya senin jam 1:30 pagi dini hari terjadi di perairan Situbondo ke timur. Di Situbondo korban manusia tidak ada tetapi kerusakan materi cukup serius.

 

Fenomena apa? Wawancara ilmiah menunjukkan gejala alami, misalnya wawancara yang dilakukan Metro TV dengan Bapak Yusuf Surachman Djajadihardja di Metro mengatakan ini mengarah pada siklus 200 tahunan. Sebelah timur Indonesia lebih rumit di mana ada 3 lempeng Australia, Nias dan Jawa.

 

Pengamatan manusia berbeda dengan kehendak Tuhan? Mari kita kenang beberapa kejadian gempa yang terjadi tanah air, akhir tahun 2004 terjadi bencana gampa hebat di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Gempa yang berkekuatan sekitar 8,7 pada skala richter ini mengakibatkan kerusahan hebat dan menewaskan ribuan penduduk Aceh. Tsunami yang mengikuti gempa segera meggulung hampir seluruh kawasan Aceh, sehingga dinyatakan sebagai bencana nasional. Di Koran, dan media elektronik ditunjukkan kepada kita betapa Stunami menjadi momok menakutkan bagi umat manusia pada saat iti. Sesungguhnya stunami juga melanda beberapa kota pantai  di seluruh kawasan Asia Pasifik, misalnya Sri Lanka, India, Thailand Malaysia. Inilah tragedi kemanusiaan terbesar tahun itu. Dua tahun lkemudian di Yogyakarta, teparnya 29 Mei terjadi gempa juga, kali ini melanda beberapa kabupaen yang tersebar di pesisir selatan. Pada gompa kali ini menimbulkan kerusakan hebat. Ratusan orang menjadi korban, bersamaan dengan itu, sumur pengeboran minyak di Porong mengalami kebocoran dan menjadi bencana alam hingga sekarang. Dalam tahun yang sama di Pantai Pangandaran, Kabupaten Tasik Malaya Jawa Barat juga dilanda gempa. Kali ini juga menimbulkan Tsunami, tetapi Tsunami kali ini tidak terlalu besar. Beberapa daerah Timur Indonesia yang rawan gempa juga mengalami beberapa kali dengan skala bevariasi.

 

Mengapa negeri ini banyak mengalami bencana? Apakah ini hukuman dari Tuhan karena murkaNya ataukah Cuma peringatan dan jeweran karena kelalaian manusia. Ataukah ada sebab lain karena ulah manusia? Mari kita urai satu per saru. Kemungkinan pertama, Tuhan marah kepada umat manusia karena telah melakukan kerusakan di muka bumi, menumpahkan darah, merusak alam, meninggalkan amalan baik dan mengumbar hawa nafsu meraja lela. Manusia bangga dengan perbuatan jahat dan hina sedangkan perintah Tuhan diabaikan bahkan dijadikan bahan cemoohan. Mereka bangga melanggar perintah Tuhan dan malu melakukan amalan saleh. Kalau demikian masalahnya, tentu sangat layak Tuhan menunjukkan kemarahannnya. Ini artinya masalah sangat serius dan urusan besar. Sejarah peradaban umat manusia di dalam Kitab Suci Al Qu’ran menjadi contoh. Misalnya kisah umat Nabi Soleh yang di binaskan oleh Allah karena melanggar perjanjian dengan Nabi Soleh. Juga umat Nabi Musa yang mudah sekali terpengaruh dengan kemurtatan pada saat ditinggalkan olek Musa. Kisah umat Nabi Nuh ditenggelamkan dengan banjir bandang karena kemurtatan umatnya. Satu satunya cara menghindari dari sebah kemarahan Tuhan adalah taubatan nasuha sekarang juga, titik

 

Mungkin saja bencana ini semacam peringatan, Tuhan menjewer telinga manusia supaya sadar, sama dengan apa yang sering kita lakukan terhadap anak kita. Lantaran sayang terhadap dia kita memberikan penalti yang mendidik. Harapannya di masa depan akan melakukan perbuatan yang lebih baik dan tidak melakukan kesalahan lagi.

 

Kemungkinan ketiga adalah murni gejala alam yang menjadi Sunnatullah. Maksudnya bahwa bencana ini tidak terkait dan bersangkut paut dengan ulah manusia. Bencana alam terjadi karena kejadian alami. Misalnya bahwa pergeseran lempeng kulit bumi adalah gejala alam, di mana pergeseran ini menjadi siklus berkala.

 

Bagaimana kita bisa mengetahui apakah bencana ini adalah gejala alam, teguran atau murka Allah? Kalau kita berpikir konservatif tentunya lebih baik berjaga-jaga lebih aman dari pada membuat justifikasi dengan pertimbangan pribadi. Dalam hal ini kita berasumsi bahwa bencana ini adalah murka Allah karena manusia telah melakukan kerusahan di muka bumi. Bukankan Pertama kali proses penciptaan manusia menuai protes dari malaikat. Manusia adalah pembuat kerusakan dan menumpahkan darah. Nah karena demikian, asumsi ini menjadi sangat beralasan. Bagaimana cara mengatasinya?

 

Mari kita mendekatkan diri dan bertaubat kepada Allah, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa yang menggunung ini. Apalagi ampunan Alllah sebih dari langit dan seisinya. Berarti kalau kita benar-benar berniat taubat, tentu diterima Allah. Diterimanya taubat menjadi syarat awal dicabutnya murka. Kalau Allah sudah tidak murka dan diganti dengan rahman dan rahim, maka inilah saatnya makin mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

Semoga bangsa ini segera bertaubat

 

Paiton, 13 September 2007.

Juli 17, 2008 - Posted by | Hikmah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: