Bekerjalah, Jangan Meminta
Beberapa orang ibu di Solo Rabu, 26 Maret 2008 melakukan demo penolakan terhadap subsidi minyak tanah. Ketika seorang wartawan Tran TV menanyakan seorang ibu diantara peserta demo tersebut dia mengatakan “Saya ini orang susah Mas, suami saya jual bakso”. Ini adalah gambaran yang terjadi di Indonesia. Kejadian lain masih sangat banyak, pada saat terjadi bencana banjir atau gempa bumi beberapa penduduk mengulurkan tangan di tepi jalan meminta-minta bantuan. Pada saat ditanya mengapa mereka meminta-minta di tepi jalan? “saya tidak terima bantuan dari pemerintah”. Di beberapa titik jalur Pantura beberapa orang mengulurkan tangan untuk pembangunan masjid yang letaknya di tepi jalan tersebut. Juga di jalan-jalan ada sebuah mobil carry keliling sambil menyertai beberapa orang yang berkeliling membawa kotak sumbangan yang disodorkan kepada semua orang yang ditemui.
Inilah drama dengan kisah terpuruh untuk sebuah negeri yang konon merupakan rangkaian jamrut katulistiwa. Ironisnya penduduknya sangat miskin dan meminta minta di pinggir jalan. Apakah mereka tidak bisa bekerja?
Bekerja adalah pilihan hidup yang mulia. Siapapun yang bekerja mendapatkan rejeki dari Tuhannnya. Bangsa ini terlalu mudah merendahkan diri dengan meminta balas kasihan. Mungkin para peminta tahu benar karakter orang Indonesia yang tidak tega dengan orang meminta, entah untuk sekedar makan atau sumber kehidupan.
Paiton, 17 Juli 2008.
Mengemis, Miskin atau Kaya
Setiap Sabtu saya mengantar istri ke kantor yang berada di kawasan pertokoaan Jalan Raden Saleh Surabaya. Perjalanan menuju tempat tersebut melewati tol Tandes-Dupak- Pasar Turi. Perjalan pulang masuk tol Dupak keluar pintu exit Tandes belok kiri lewat Jalan Margomulyo ke selatan menuju Balongsari.
Kira-kira 20 meter dari pintu tol exit Tandes, ada seorang laki-laki pengemis duduk bersila di sebelah kanan jalan sebelum belokan. Penampilannnya sangat kusut mengenakan celana panjang compang-camping, kaos oblong robek pada lengan dan punggung, bahkan warna putih kaos sudah tidak nampak karena noda hitam yang memenuhi sabagian warna putihnya. Dia mengenakan topi caping robek sangat parah, sehingga sebagian rambutnya tidak dapat terlindung. Kakinya mulai dari telapak dibungkus dengan kain hitam dan terlihat lalat berkerumun di sekitarnya. Kulitnya yang hitam dan kotor makin mengkilap di bawah sengatan sinar matahari siang yang sangat terik. Sambil menundukkan mukanya dia pegangi sebuah kaleng kecil dan menadahkan tanggannya. Sangat memperihatikan, tubuhnya yang kurus makin menggugah siapapun yang melintas. Beberapa kali tanganku menarik recehan di dasbot mobil dan kulepaskan begitu saja tanpa beban.
Pada waktu yang lain aku melintas di tempat yang sama siang hari sekitar jam 2. Udara Surabaya siang ini mendung sangat gelap. Aku berharap segera sampai di rumah dan tidak kehujanan di jalan. Keluar Tol Tandes rintik hujan mulai muncul dan cepat membesar. Keluar pintu tol aku terkejut luar biasa, pak tua pengemis yang biasanya aku jumpai di pinggir jalan ini sedang melintas jalan berjarah beberapa meter di depan mobil meninggalkan tempat duduknya dari tepi jalan sambil berlari menghindari hujan yang makin deras. Sambil berlari dia arahkan pandangannya ke arahku dan meringis seperti anak kecil yang masih lugu. Tidak terlihat tanda cacat atau luka yang tangan dan kakinya.
Aku sadar ternyata dia selama ini melakukan penipuan terhadap orang yang melintas dengan berpura-pura sakit atau cacat. Dalam hatiku berkata, sungguh kasihan dia, bahkan untuk mengemispun masih melakukan pebuatan tercela dan menipu. Jelas-jelas mengemis adalah tindakan rendah diperparah dengan caranya yang curang penuh kebohongan.
Cerita lainnya. Beberapa waktu lalu di Jawa Pos mengupas kisah seorang raja pengemis di Surabaya bernama Cak To. Dia menggeluti dunia per-ngemisan sejak kecil, bahkan mulai lahir sudah diajak orang tuanya mengemis, karena kedua orang tuanya adalah pengemis. Setelah menjadi pengemis mandiri bertahun-tahun, Cak To berpikir bahwa kalau mengemis dengan cara mandiri tidak akan mendapatkan hasil optimal. Kemudian dia mengkoordinasi beberapa temannya di terminal Surabaya. Dia memberikan training cara mengemis yang baik supaya mendapatkan hasil banyak. Mulai dari pakaian, cara bicara, waktu dan tempat diajarkan Cak To. Hasilnya luar biasa, ternyata dengan melakukan sandiwara ngemis hasilnya meningkat pesat. Saat ini pada usia 40-an, Cak To mengkoordinasi sekitar 50 orang dibantu 5 orang kepercayaannya. Mau tahu, berapa penghasilan Cak To. Sama dengan pejabat eselon 1, yaitu 300 ribu per hari atau 9 juta per bulan.
Pada saat Jawa Pos janjian ketemu Cak To, dia mengendarai mobil Honda CRV cukup gress. Bukan hanya itu, cak To juga memiliki tiga rumah, salah satunya berada di kawasan perumahan elit Surabaya Barat.
Cak To, bukan hanya pengemis tetapi juga entrepreneour sajati. Layaklah dia berbgi pengalaman dengan pengusaha sukses lainnya.
Dua kisah pengemis yang unik, satunya pengemis murahan dan pembohong, satunya lagi pengemis cerdas.
Paiton, 16 Juli 2008.
-
Terkini
- Menanti Kelanjutan Sukses Ayat-ayat Cinta
- Bersyukur
- 10 Keistimewaan Kaum Muslim
- 8 Keutamaan Do’a
- Korban Ryan, Jagal manusia dari Jombang
- Siapa Calon Presiden 2008?
- Anggota DPR Penerima Aliran Dana BI
- Ahli Surga, Siapakah Dia?
- Gagal dan Berhasil, Sama Saja
- Tips Menghemat Air
- TIPS KENALI KELUHAN RASA TIDAK NYAMAN DI DADA
- Harga Minyak Dunia Turun, Ada Apa?
-
Tautan
-
Arsip
- Agustus 2008 (2)
- Juli 2008 (20)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS