Ahli Surga, Siapakah Dia?
Pada saatu forum, Nabi Muhammad saw., berucap kepada para sahabat “Besok kita akan kedatangan ahli surga”.
Di dalam Hati AbuHurairah, (yaitu seorang sahabat Nabi saw., yang paling dekat) berkata “semoga aku adalah orang yang dimaksud oleh Beliau”. Pagi sekali Abu Hurairah datang ke masjid untuk menunaikan shalat subuh. Abu Hurairah sbalat tepat di belakang Rasulullah Muhammad saw. Setelah shalat dia tetap di masjid dan tidak meninggalkan tempat walaupun orang lain sudah pergi.
Beberapa saat setelah itu datang seorang berkulit hitan berpakaian camping lalu mengucapkan salam. Setelah itu orang tersebut berkata kepada Nabi. “Wahai Nabiyullah, do’akan aku supaya mati syahid. Lalu Nabi saw., berdo’a kemudian orang tersebut berlalu. Setelah dia pergi, Abu Hurairah bertanya kepada Nabi saw., “Apakah orang tersebut yang tuan maksud wahai Rasulullah?”. Kemudian Nabi saw., menjawab, Ya, dialah orangnya. Dia adalah budak dari bani fulan’.
(disarikan dari sebuah hadist)
Ibrah apa yang dapat kita petik dari cerita ini? Dengan segela kerendahan hati saya ingin menyampaikan bahwa baik atau buruk, mulia atau hina, tidak dapat dilakukan secara baik oleh manusia, apalagi kalau hanya dilakukan secara kasat mata. Apa yang terlihat di depan mata tidak dapat dijadikan variable justifikasi baik dan buruknya seorang manusia.
Demikian juga dengan keberhasilan dan kegagalan. Ukurannnya relatif dan dipengaruhi oleh relatifitas waktu. Siapa yang dapat menjamin bahwa Superstar bola Ronaldo akan tetap berjaya dan bertabur penghargaan. Siapa yang mengira David Beckham pamornya makin suram seiring dengan berlalunya waktu. Siapa dapat menjamin bahwa Panser Jerman menjadi juara Dunia Bola untuk selamanya? Semua kondisi ini berubah seiring dengan berjalannya waktu.Intinya, Tuhan tidak akan meninggalkan hambaNya yang berusaha keras untuk mendapatkan keberhasilan. Keberhasilan tidak datang secara tiba-tiba dari langit, melainkan harus diusahakan dengan sungguh sungguh. Waktu menjadi faktor penting, maksudnya keberhasilan didapatkan seiring dengan berjalannnya waktu dan bukan barang instant. Sesuatu yang didapatkan secara instant sama dengan proses karbitan, di mana masil yang dicapai bukan sejatinya hasil nyata, melainkan bungkus luar yang diisi dengan sebagian saja dari standar yang dibutuhkan.
“Easy come and easy go“. Sesuatu yang didapatkan secara tidak benar dan jalan pintas, maka cepat pula lenyapnya. Keberhasilan sejati didapat dengan kerja keras dan waktu panjang, sehingga kelanggengannya bisa dipertahankan.
Surabaya, 22 Juli 2008.
Gagal dan Berhasil, Sama Saja
Sangat sedikit orang yang bercerota tentang kegagalan, padahal kegagalan juga hasil dari usaha.
The Wisdom Man.
Pengantar
Gagal juga hasil usaha. Seburuk apapun hasilnya, gegal menjadi bagian dari sunatullah yang harus diterima.
Hidup adalah usaha, dan setiap usaha menuai hasil. Berhasil atau gagal menjadi kadar kehidupan manusia. Tidak bisa kita mengelak kegagalan karena parasnya yang buruk. Gagal adalah tangga pertama yang harus dilewati oleh sebagian besar umat manusia sebelum mendapati hasil jerih payahnya. Kegagalan bisa menjadi tungku pembakaran, sehingga sebentuk piala terlihat indah menggagumkan di tangan kolektor sejati.
- Gagal adalah hasil kerja
Seberapapun kau benci kegagalan, dia menjadi bagian dari hidupmu. Jangan membenci kegagalan, karena suatu saat perihnya gagal berganti dengan keberhasilan yang gilang gemilang.
Sama juga dengan hitam dan putih, keduanya silih berganti dalam kehidupan manusia. Dengan usaha keras kegagalan yang nyata berganti menjadi terang benderang berbalut senyum dan puji syukur Illahi.
- Keberhasilan karena usaha
Jangan pernah berpikir engkau mendapati keberhasilan dengan berpangku tangan karena berlian yang indah berkilauan pernah menjalani kepayahan karena asah yang merasuk sampai tulang sumsum. Jangan kau lihat indahnya berlian dari kilauan, tetapi di sana menempel juga proses asah tangan tangan-tangan perkasa bercucur keringan. Tangan tangan itu digerakkan oleh semangat yang hebat dan kasih sayang tulus ihklas.
Sementara yang lain berkata “saya sudah berusaha keras, tetapi tidak berhasil”. Katakan bahwa Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan tidak berpaling dari hamba-hambanya yang berusaha dengan otot, otak dan kalbunya. Tuhan mendengar semua panjatan do’a yang dibisikkan dengan suara lembut lagi mendayu. Tuhan Pasti menepati janjinya, karena Dia Maha Kuasa dan Adil.
Kalau saat ini kamu belum mendapatinya, berusahalah lebih baik. Jangan bersedih dan putus asah. Tuhan benci dan marah dengan hambaNya yang putus harapan. Putus harapan hanya milik kaum fasik yang meninggalkan sifat-sifat mulia. Bulankan engkau bukan golongan mereka yang pasik?
Ada yang berkata “Tuhan meninggalkan kami”. Sekali-kali Tuhan tidak pernah meninggalkan hambanya yang mengikuti kehendakNya. Milikilah sifat Asma’ul Husna bagian dari perbuatan dan sebutan kalbu. Temukan Tuhan di setiap saat kehidupanmu. Niscaya Kau dapati behagia itu sama hebatnya dengan keberhasilan.
- Berhasil Bukan Segalanya.
Berhail dan gagal sama dengan sekeping mata uang. Keberadaannya menjadi milik Sang Tunggal yang tidak bisa dipisahkan oleh nafsu-nafsu. Suatu kali kau dapati permukaannya berlabel senyum keberhasilan, pun demikian suatu saat yang lain sisi buruknya muncul seperti pil pahit sebagai pengobat rasa sakit jiwa yang letih.
Jangan menepuk dada karena keberhasilan, jangan pula menangis membabi buta merasakan pedihnya kegagalan. Hanya kerja keras dan pertolongan Tuhan yang dapat merubah kegagalan menjadi sinar kilau bak berlian.
Surabaya, 23 Juli 2008.
Berhala
Rabu 12 September 2007 terjadi gempa bumi di perairan Bengkulu dan padang Sumatra Barat. Genpa yang berkuatan 7,9 skala refter tersebut membuat kerusajkan cukup parah di sekitarnya. Sampai dengan Kamis sore korban meninggal tercatat 8 orang dari sumber Metro TV. Dua hari sebelumnya senin jam 1:30 pagi dini hari terjadi di perairan Situbondo ke timur. Di Situbondo korban manusia tidak ada tetapi kerusakan materi cukup serius.
Fenomena apa? Wawancara ilmiah menunjukkan gejala alami, misalnya wawancara yang dilakukan Metro TV dengan Bapak Yusuf Surachman Djajadihardja di Metro mengatakan ini mengarah pada siklus 200 tahunan. Sebelah timur Indonesia lebih rumit di mana ada 3 lempeng Australia, Nias dan Jawa.
Pengamatan manusia berbeda dengan kehendak Tuhan? Mari kita kenang beberapa kejadian gempa yang terjadi tanah air, akhir tahun 2004 terjadi bencana gampa hebat di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Gempa yang berkekuatan sekitar 8,7 pada skala richter ini mengakibatkan kerusahan hebat dan menewaskan ribuan penduduk Aceh. Tsunami yang mengikuti gempa segera meggulung hampir seluruh kawasan Aceh, sehingga dinyatakan sebagai bencana nasional. Di Koran, dan media elektronik ditunjukkan kepada kita betapa Stunami menjadi momok menakutkan bagi umat manusia pada saat iti. Sesungguhnya stunami juga melanda beberapa kota pantai di seluruh kawasan Asia Pasifik, misalnya Sri Lanka, India, Thailand Malaysia. Inilah tragedi kemanusiaan terbesar tahun itu. Dua tahun lkemudian di Yogyakarta, teparnya 29 Mei terjadi gempa juga, kali ini melanda beberapa kabupaen yang tersebar di pesisir selatan. Pada gompa kali ini menimbulkan kerusakan hebat. Ratusan orang menjadi korban, bersamaan dengan itu, sumur pengeboran minyak di Porong mengalami kebocoran dan menjadi bencana alam hingga sekarang. Dalam tahun yang sama di Pantai Pangandaran, Kabupaten Tasik Malaya Jawa Barat juga dilanda gempa. Kali ini juga menimbulkan Tsunami, tetapi Tsunami kali ini tidak terlalu besar. Beberapa daerah Timur Indonesia yang rawan gempa juga mengalami beberapa kali dengan skala bevariasi.
Mengapa negeri ini banyak mengalami bencana? Apakah ini hukuman dari Tuhan karena murkaNya ataukah Cuma peringatan dan jeweran karena kelalaian manusia. Ataukah ada sebab lain karena ulah manusia? Mari kita urai satu per saru. Kemungkinan pertama, Tuhan marah kepada umat manusia karena telah melakukan kerusakan di muka bumi, menumpahkan darah, merusak alam, meninggalkan amalan baik dan mengumbar hawa nafsu meraja lela. Manusia bangga dengan perbuatan jahat dan hina sedangkan perintah Tuhan diabaikan bahkan dijadikan bahan cemoohan. Mereka bangga melanggar perintah Tuhan dan malu melakukan amalan saleh. Kalau demikian masalahnya, tentu sangat layak Tuhan menunjukkan kemarahannnya. Ini artinya masalah sangat serius dan urusan besar. Sejarah peradaban umat manusia di dalam Kitab Suci Al Qu’ran menjadi contoh. Misalnya kisah umat Nabi Soleh yang di binaskan oleh Allah karena melanggar perjanjian dengan Nabi Soleh. Juga umat Nabi Musa yang mudah sekali terpengaruh dengan kemurtatan pada saat ditinggalkan olek Musa. Kisah umat Nabi Nuh ditenggelamkan dengan banjir bandang karena kemurtatan umatnya. Satu satunya cara menghindari dari sebah kemarahan Tuhan adalah taubatan nasuha sekarang juga, titik
Mungkin saja bencana ini semacam peringatan, Tuhan menjewer telinga manusia supaya sadar, sama dengan apa yang sering kita lakukan terhadap anak kita. Lantaran sayang terhadap dia kita memberikan penalti yang mendidik. Harapannya di masa depan akan melakukan perbuatan yang lebih baik dan tidak melakukan kesalahan lagi.
Kemungkinan ketiga adalah murni gejala alam yang menjadi Sunnatullah. Maksudnya bahwa bencana ini tidak terkait dan bersangkut paut dengan ulah manusia. Bencana alam terjadi karena kejadian alami. Misalnya bahwa pergeseran lempeng kulit bumi adalah gejala alam, di mana pergeseran ini menjadi siklus berkala.
Bagaimana kita bisa mengetahui apakah bencana ini adalah gejala alam, teguran atau murka Allah? Kalau kita berpikir konservatif tentunya lebih baik berjaga-jaga lebih aman dari pada membuat justifikasi dengan pertimbangan pribadi. Dalam hal ini kita berasumsi bahwa bencana ini adalah murka Allah karena manusia telah melakukan kerusahan di muka bumi. Bukankan Pertama kali proses penciptaan manusia menuai protes dari malaikat. Manusia adalah pembuat kerusakan dan menumpahkan darah. Nah karena demikian, asumsi ini menjadi sangat beralasan. Bagaimana cara mengatasinya?
Mari kita mendekatkan diri dan bertaubat kepada Allah, sehingga Allah mengampuni dosa-dosa yang menggunung ini. Apalagi ampunan Alllah sebih dari langit dan seisinya. Berarti kalau kita benar-benar berniat taubat, tentu diterima Allah. Diterimanya taubat menjadi syarat awal dicabutnya murka. Kalau Allah sudah tidak murka dan diganti dengan rahman dan rahim, maka inilah saatnya makin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Semoga bangsa ini segera bertaubat
Paiton, 13 September 2007.
Sejatinya Bahagia
Bahagia adalah bahagia melihat orang lain bahagia
Kita bahagia karena orang lain bahagian dan sebaliknya kita susah melihat orang lain susah.
Pada tataran awal, manusia bahagia karena diri sendiri bahagia mendapatkan sesuatu yang membuat bahagia, tetapi kebahagiaan seperti itu adalah semu. Kebahagiaan diri sendiri adalah topeng tersenyum ditengah tengah air mata dan jeritan hati. Orang lain melihat kita asing di hadapannya, pun demikian kita hidup tersisi dari hati-hati mereka yang menyatu.
Setelah topeng egomu terbuka, akan kau rasakan betapa semilir angin menyapa semua manusia yang ditemuinya tanpa membedakan si kaya dan si miskin, si lemah dan si kuat. Memasuki kedalaman hati-hati mereka membuat engkau menyatu dengan semesta alam ciptaan Tuhan.
Sejatinya bahagia adalah kebahagiaan orang lain.
Surabaya, 16 Juli 2008.
-
Terkini
- Menanti Kelanjutan Sukses Ayat-ayat Cinta
- Bersyukur
- 10 Keistimewaan Kaum Muslim
- 8 Keutamaan Do’a
- Korban Ryan, Jagal manusia dari Jombang
- Siapa Calon Presiden 2008?
- Anggota DPR Penerima Aliran Dana BI
- Ahli Surga, Siapakah Dia?
- Gagal dan Berhasil, Sama Saja
- Tips Menghemat Air
- TIPS KENALI KELUHAN RASA TIDAK NYAMAN DI DADA
- Harga Minyak Dunia Turun, Ada Apa?
-
Tautan
-
Arsip
- Agustus 2008 (2)
- Juli 2008 (20)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS